Pemenang V Pecundang

PANGGIL saja namanya Rudi. Saya mengenalnya sejak 2007. Pak Rudi datang ke pelatihan motivasi saya. Pak Rudi juga menjalani sesi hipnoterapi. Beberapa sesi. Untuk masalah berbeda. Pak Rudi salah satu pelanggan setia. Rajin RO (Repeat Order).

Saat jumpa kali pertama. Kondisi Pak Rudi sedang droop. Sampai akhirnya Pak Rudi mencapai semua impiannya. Membangun rumah impian. Bisnis berkembang pesat. Mampu membeli kendaraan idaman.

Dua pekan lalu Pak Rudi kembali menjumpai saya. Ia minta “dicambuk” lagi. Sebab sejak akhir 2017 kondisinya kembali droop. Saya memprediksi hal ini akan terjadi dengan Rudi 2 tahun sebelumnya. Bahkan dalam beberapa kali perjumpaan saya sudah mengingatkan. Namun Pak Rudi melakukan pembenaran. Sampai akhirnya Pak Rudi tobat. Dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Lantas apa kesalahan dilakukan Pak Rudi?

Sering mengeluh. Saya ulangi. Sering mengeluh. Yang dikeluhkan adalah kebijakan pemerintah. Apalagi sejak mitra kerja memutus kerjasama. Pak Rudi menilai putusnya kerjasama tersebut akibat dari kebijakan pemerintah. Kebijakan yang tidak pro rakyat.

Pak Rudi menambahkan saat ini banyak orang sengsara. Sebab mencari uang saat ini sangat sulit. Ini semua karena pemerintah tak pro rakyat.

Saya katakan dengan Pak Rudi. Inilah persoalan sebenarnya. Saya menyebutnya mindset keliru. Pak Rudi melepas tanggungjawab terhadap persoalan hidupnya. Alih-alih mencari solusi, malah mencari alasan.

Inilah disebut dengan mental pecundang. Mental pecundang kerap melakukan pembenaran. Atau menyalahkan ketika kondisi hidupnya kurang beruntung. Semua disalahkan. Isteri, suami, anak, tetangga, atasan, bawahan, presiden. Bahkan menyalahkan diri sendiri dan Tuhan.

Pola mengeluh ini akhirnya menjadi habit atau kebiasaan. Sampai-sampai membuat status di media sosial isinya tak jauh dari hal negatif. Alih-alih mengkritik pemerintah. Padahal tindakannya tersebut sebagai bentuk ketidakpuasan. Alias frustasi. Bin lupa bersyukur. Mengeluh tak akan memperbaiki kehidupan. Mengeluh justru memperburuk keadaan. Sebab vibrasi yang terpancar negatif.

Padahal ayatnya jelas Q.S Ibharim ayat 7 : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur maka akan aku tambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) sesungguhnya azabku sangat berat.”

Saya kembali mengingatkan ada satu hukum ciptaan Tuhan. Namanya Law of Attraction (LoA). Prinsip kerja LoA adalah menarik hal yang memiliki kesamaan. Artinya kalau kita fokus dengan masalah dan keluhan. Maka masalah dan keluhan yang akan datang dalam hidup. Begitu sebaliknya.

Kalau hadistnya bunyinya kurang lebih demikian “Sesungguhnya Allah menurut prasangka hambanya.” Maksudnya kalau kita berfikir positif maka banyak hal positif datang. Demikian sebaliknya.

Saya menambahkan ada lima hal bisa merubah mindset atau pola pikir seseorang. Pertama repitisi (pengulangan). Kedua intensitas emosi. Ketiga orang yang memiliki otoritas. Keempat indetifikasi kelompok. Kelima hipnosis atau hipnoterapi.

Saya tegaskan kepada Pak Rudi nasib yang dialami saat ini karena faktor keempat. Karena mayoritas orang di sekitarnya merasa sulit mencari uang, Pak Rudi mengganggap hal itu benar. Begitulah cara kerja pikiran bawah sadar manusia.

Pembenaran Pak Rudi belum berhenti. Ia malah menuduh saya sebagai pendukung setia pemerintah “Jawaban Pak Eko cebong banget.”

Saya tegaskan sikap hidup itu bukan karena cebong atau kampret. Kadrun atau Badrun. Saya hanya menjelaskan prinsip kerja pikiran sebagai keahlian yang saya miliki.

Sebelum memberi cambukkan, saya bertanya beberapa hal kepada Pak Rudi. Adakah orang semakin sukses dan kaya raya saat ini? Ada tidak cebong atau kampret hidupnya tambah makmur? Ada atau tidak cebong atau kampret hidupnya tersungkur?

Faktanya saat ini banyak orang hidupnya tambah kaya. Apakah dari kalangan cebong atau kampret. Tapi ada juga kehidupan yang prihatin dari kedua golongan tersebut.

Mendengar jawaban saya, Pak Rudi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tanda setuju.

Saya tegeaskan kepada Pak Rudi. Miliki mental pemenang. Mental pemenang bertangungjawab terhadap kondisi kehidupan.

Saat di atas tak merasa cepat puas. Selalu rendah hati. Tak pernah merendahkan orang lain. Hidupnya penuh rasa syukur dan bahagia.

Ketika di bawah tak mengeluh. Mengeluh bakal membuat hidup semakin keruh. Intropeksi diri. Terus belajar. Bertanggungjawab atas segala tindakan. Tidak menyalahkan siapa-siapa. Semangat pantang menyerah. Tak ada kamus menyerah dalam diri pemenang. Tak ada kamus gagal. Yang ada startegi kurang tepat.

Saya katakan kepada Pak Rudi justru saat ini kondisi sangat baik untuk memperbaiki sumber kehidupan. Sebab sarana dan prasarana memadai. Setiap orang saat ini sudah memakai gawai alias smart phone. Ini adalah potensi pasar yang cukup besar. Tinggal mau atau tidak.

Saya katakan kepada Pak Rudi mulailah merubah pola pikirnya. Ambil tanggungjawab atas kejadian yang menimpanya. Saya meminta Pak Rudi fokus 7 Minggu dengan mindset baru. Sebab segala sesuatu itu tak ada yang instant. Setelah itu Pak Rudi memberi report. Jika belum ada perubahan saya akan membantunya dengan hipnoterapi.

Hal ini pernah saya lakukan dengan Pak Rudi. Namun edukasinya plus dengan hipnoterapi. Saat itu banyak sekali mental block (limiting belief) Pak Rudi. Setelah dibereskan mental blokcnya, prestasi Pak Rudi lari kencang. Omzetnya meningkat 10 kali lipat. Semoga prestasi ini kembali terulang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *