Kompetensi dan Sertifikat

SAYA sering mendapat pertanyaan dari klien. Terutama dari mereka yang memiliki kepribadian melankolis.

Pertanyaan itu seputar lembaga tempat saya belajar. Hingga disiplin ilmu apa saja yang sudah dipelajari. Satu lagi. Fee terapi atau saat jadi pembicara.

Seperti ditanyakan Ibu Sinta (nama samaran). Bu Sinta minta saya menunjukan sertifikat pelatihan yang pernah saya ikuti. Jika saya berhasil menunjukan sertifikat tersebut Ibu Sinta baru yakin. Dan bersedia dibantu dengan saya.

Sekedar diketahui Ibu Sinta sudah membuat janji dengan terapis lain. Namun karena tak memenuhi ekspektasinya, Bu Sinta membatalkan jadwal dengan terapis tersebut. Padahal tarif terapis itu jauh lebih murah dibanding fee terapi saya.

Dosen salah satu Universitas Negeri di Lampung itu akhirnya minta jadwal dengan saya. Karena saya tak membawa semua sertifikat, saya meminta Bu Sinta membuka profil saya. Di web pribadi www.ekojsaputra.com. Selain itu Bu Sinta melihat beberapa video seminar dan edukasi yang saya share di YouTube. Kelak saya berjanji menunjukan semua sertifikat pelatihan saya. Apa Bu Sinta langsung yakin?

Belum. Saya diminta membantu teman prianya. Sebut saja Pak Rudi. Bu Sinta minta agar Pak Rudi rajin ibadah. Sebab sudah 15 tahun terakhir tidak pernah shalat. Sulit menghafal kalimat Al Qur’an. Sebab Bu Sinta bisa menerima lamaran Pak Rudi jika sudah bisa shalat dan mengaji.

Proses hipnoterapi sesi pertama dari empat sesi dilakukan. Hasilnya, Bu Sinta memberi laporan bahwa Pak Rudi sudah shalat 5 waktu di Masjid. Selain itu sudah mulai lancar melafazkan bacaan Al Quran.

Pekan berikutnya keduanya datang lagi menjumpai saya. Kali ini giliran Bu Sinta minta terapi. Ia benar-benar yakin setelah melihat perubahan positif dialami Pak Rudi.

Saya memaklumi keputusan Bu Sinta. Pertama ia memiliki kepribadian melankolis. Tipikal melankolis adalah menuntut kesempurnaan. Detail dan sangat ekspert. Selain itu saya tak menempel semua piagam dan sertikat pelatihan di ruang terapi.

Satu hal lagi. Bu Sinta pernah mengalami trauma. Alias membeli kucing dalam karung. Bu Sinta pernah ditinggal pria pujaannya. Setelah ia memberikan segalanya untuk laki-laki itu. Meski begitu Bu Sinta mengaku ia masih perawan.

Setelah selesai membantu terapi Bu Sinta, saya menjelaskan. Saya adalah tipikal orang berorentasi kompetensi. Bukan gengsi semata. Sebab orang berkompentesi pasti bergengsi. Sementara orang bergengsi belum tentu memiliki kompetensi.

Itu mengapa saya tak “memamerkan” semua piagam dan sertifikat saya. Yang penting saya benar-benar memiliki kompetensi dan keahlian untuk membantu klien.

Saya katakan kepada Bu Sinta, saya memiliki teman terapis. Sertifikatnya lebih banyak dari saya. Tapi teman ini tak bisa mengaplikasikan ilmunya. Sebab teman ini memiliki mental pengakuan. Mengapa teman tersebut tak mampu mengaplikasikan ilmunya?

Pengalaman saya adalah karena belajar dengan orang yang kurang tepat. Itu saya alami awal belajar hipnoterapi. Saya bisa membuka praktek setelah belajar dengan pakarnya. Sejak saat itu saya berhati-hati mengikuti pelatihan. Saya akan belajar dengan orang yang benar-benar ekspert di bidangnya. Tentunya orang tersebut adalah praktisi di bidangnya. Konsukuensinya harus merogoh kocek lebih. Murah atau mahal itu sangat relatif.

Setelah merasakan hasil terapi dan penjelasan saya, Bu Sinta mengaku tak salah memilih terapis. Bu Sinta tak merasa rugi merogoh kocek lebih.

Sebagai penutup saya katakan kepada Bu Sinta. Saya bukan terapis terbaik. Tapi Bu Sinta tak akan pernah berjumpa dan menemukan terapis seperti saya di luar sana.

Sementara tadi malam saya mendapat klien serupa. Sebut saja Bu Dewi. Saya diminta memberi motivasi untuk Dharma Wanita di kantornya.

Bu Dewi sudah pernah melihat aksi panggung saya. Itu mengapa ia merekomendasikan kepada pimpinannya. Namun tetap. Saya diminta menyerahkan profil lengkap. Profil itu untuk menyakini pimpinannya.

Tak lama setelah saya mengirimkan biodata, Bu Dewi menghubungi saya. Bu Dewi mengatakan bahwa pimpinannya sudah acc. Dalam hati saya berkata yang acc itu sebenarnya Bu Dewi. Pimpinannya ikut saja. Sebab yang pernah melihat aksi saya Bu Dewi bukan pimpinannya.

Perlu diketahui isi buku lebih penting dari sampulnya. Kualitas hati dan pikiran lebih utama daripada rupanya. Makanan itu bukan bungkusnya. Melainkan cita rasanya. Pembicara itu pengalaman dan ilmunya. Bukan sertikatnya. Demikian kenyataannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *